Senin, 01 Februari 2016

Zulaikha Sebagai Pemuas Nafsuku


Cerita Seks Zulaikha Pemuas Nafsuku – Namanya Zulaikha, wanita muda berwajah teramat cantik dan alim berjilbab. Baju panjang muslimah, senantiasa menutupi sekujur tubuhnya yg putih mulus. Ya … walau hanya wajah dan telapak tangannya saja yang terlihat, saya tahu kulit tubuhnya tentulah seputih dan semulus wajahnya. wanita muda idaman setiap pria, itulah sosok Ida Zulaikha. alim berjilbab lebar anggun, cantik, sopan, alim, sungguh menawan. Bibirnya yang bibir sexy, berdagu lancip dan….cantik deh pokoknya. Dia alumnus Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Fakultas Hukum.

Beruntunglah Budiman, wakilku di perusahaan milikku, yang berhasil memperistrinya. Seringkali aku menatapi wajahnya yang lembut dan anggun setiap kali aku ke rumahnya kalau ada urusan dengan Budiman. Wah …. betapa enaknya ini tubuh wanita muda alim berjilbab. Sudah cantik, anggun, lembut, sopan, rapi, alim lagi … pokoknya segudang pujian dan sanjungan pantas kuberikan padanya. Namun karena sifatnya yang alim dan sangat menghragaiku sebagai atasan suaminya, membuatku tak berani menggodanya, ya … mengingat dia sangat alim, juga posisinya sebagai istri dari pegawaiku sendiri.
Sering setiap aku bertandang ke rumahnya, Ida Zulaikha ikut duduk menemani suaminya ngobrol denganku. Nah … seringpula mata nakalku mencoba menatapi dan mencuri-curi pandang ke istri Budiman ini. Betapa cantik dan anggunnya wanita muda ini, wah wah wah …. bagaimana ya nikmatnya kalau aku bisa menelanjangi tubuhnya yang selalu tertutup jilbab dan baju panjang ini … bahkan lebih jauh menidurinya?. Pada bulan Juli 2004 Pameran berskala internasional diselenggarakan di Jakarta, sudah menjadi kebiasaan perusahaanku ikut berpartisipasi.
Perencanaan harus matang, agar tak membuat malu. Dari persiapan mengurus stand, ijin, dan berbagai sarana harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Ya … akhirnya Budiman selaku wakilku, kutugaskan untuk mengurus semuanya itu. Senin pagi berangkatlah Budiman bersama lima orang pegawai kami ke Jakarta.
Tepat jam 08.00 WIB, kereta api senja utama meluncur meninggalkan stasiun Tugu Yogyakarta … dan nampak Ida Zulaikha mengantarkan kepergian suaminya. Rona muka kemerahan, ah … barangkali ia merasa sedih dan berat ditinggal suaminya.
“Mbak Ida … udah, nggak usah sedih … sebentar juga pulang” ucapku menghibur.
“Ah…,iya Pak.” ia tersenyum. Nggak papa kok Pak, mari Pak kita pulang”.
Mobil sedan susuki Baleno warna biru metalik yang kukemudikan, perlahan bergerak meninggalkan stasium tugu menuju komplek perumahan elit di Yogya utara, ya … aku hendak mengantarkan mbak Ida yang cantik ini pulang ke rumahnya. Deg-degan juga hatiku, baru sekarang aku duduk bersandingan berduaan di dalam mobil bersama wanita muda yang selama ini aku kagumi. Jilbab putih bersih terjuntai hingga hampir ke perut, dipadu baju muslimah panjang warna ungu kembang-kembang, sangat indah dan serasi dengan kecantikannya.
“Mbak Ida mau langsung pulang?” tanyaku.
“Ya Pak…”, jawabnya. Rasanya deg2an semakin kuat. Aku bingung bagaimana mengakrabkan diriku dengan mbak Ida ku ini. “Wah … mbak Ida asli Indonesia nggak sih?” tanyaku sambil mencari-cari akal bagaimana mencairkan suasana.
”Iya, Memangnya kenapa Pak”
“Nggak, kok kayak orang Indo Arab?”
“Kok…?” “Iya … hidung mancung, alis item, kulit kuning, dan…cantik lagi.” jawabku mencoba menggoda..
“Hehehehhe..”, ia tertawa renyah sekali.
Hatiku bersorak gembira, rupanya suasana makin akrab dan ia sudah tidak kaku lagi.
“Masak sih Pak?” Iya, beruntung ya dik Budiman dapet istri kayak mbak Ida. Cantik, alim berjilbab, alim, sopan, wah wah … kalo aku punya istri kayak mbak, nggak bakal aku tinggalin deh satu detikpun.”
“Hahahahhaha” ia kembali tertawa.
Sesekali ia sampirkan jilbab putihnya ke pundak. Wow….cantik sekali segala gerak dan gayanya.
“Iya lho mbak…bagi saya, cewek cantik alim berjilbab sangat menarik dan … sangat sempurna., apalagi cantik seperti mbak.” Emang pacar bapak siapa sih, alim berjilbab juga ya?”
“Hehe…belum punya”
”cariin dong mbak Ida yang kayak mbak Ida.” Kulirik Ida, ia tersenyum sungguh cantik sekali.
“Kenapa sih Bapak suka wanita muda alim berjilbab?”
“Sebab wanita muda alim berjilbab, sangat menjaga jarak dengan lawan jenis, sangat menjaga, kealiman dan kesuciannya. Dan karenanya, kalau bercinta … tentu sangat hot, hehehhe….!”
“Ah bapak bisa aja”.
“Iya lho mbak, walau saya orangnya metal gini, saya sangat menyukai wanita muda alim berjilbab.” Penampilanku saat ini memang metal, kaos ketat, celana jeans, dan memakai ikat kepala warna biru.
Akhirnya sampailah di rumah nomor 158, sebuah rumah mewah warna krem bersih dan genting warna merah.
“Masuk dulu Pak” tawar Ida.
“Ya…makasih.” Jantungku semakin deg-degan.
Dalam hati aku sudah tak tahan lagi menelanjangi dan menggauli wanita muda cantik alim berjilbab ini. Sambil melangkah masuk ke dalam rumah, kubetulkan ikat kepala yang melilit di kepalaku sambil mata nakalku tak lepas menatap pantat Ida yang kelihatan montok. Celana dalamnya kadang tercetak jelas di balik bongkahan pantatnya. Ouww….ingin sekali aku mencolek dan meremas pantat bahenol tersebut wanita muda alim berjilbab ini. Sampai di dalam rumah, ia persilahkan aku duduk,
”Pak….duduk dulu ya, mau bikin minum”. Tanganku cepat menarik tangannya.
“Nggak usah Mbak” jawabku sambil menggenggam tangannya.
Ia memandangku dengan tenang. Wow…..betapa lembut tatapan mata itu. Ia nampak tak menolak saat tangannya berada dalam genggamanku.
“Mbak Ida … kamu cantik sekali.” kataku merayunya. Aku sungguh tak tahan dengan kecantikan mbak.
Akhirnya kebaranikan diri, kupeluk tubuhnya yang masih mengenakan jilbab putih dan baju panjangnya itu.
“Mbak Ida … kamu cantik sekali …” kuciumi wajahnya, pipinya….dan kupeluk kuat2 tubuhnya yang sangat menggiurkan itu.
jilbab putih segara kuangkat di bagian dadanya. Wajahku menciumi buah dadanya yang masih tertutup baju jubah panjang. Ida menggeliat-geliat kegelian.
“Pak….jangan…”, ia merintih. Aku tak peduli lagi. Semuanya sudah terlanjur basah. Kugenggam kain jilbab di belakangnya punggungnya … sambil tanganku yang satunya turun ke bawah … meraih pantatnya … meremasnya … dan mengusap-usapnya…dan meremas-remasnya.
Mulutku terus menciumi buah dadanya, pipinya, bibirnya, lehernya, sambil tanganku terus bergerilya membelai, mengusap, meraba. dan merenmas-remas pantatnya. wanita muda alim berjilbab ini menggelinjang, tubuhnya menggeliat-geliat, rupanya ia telah mulai bernafsu. Tanganku kini mengelus-elus selangkangannya yang tertutup jubah panjang itu. Ida Zulaikha … wanita muda alim berjilbab ini akhirnya pasrah dan tak menolak perlakuanku.
Kulepaskan semua pakaianku. Aku sudah tak tahan lagi ingin mengentot wanita muda alim berjilbab ini. Aku ingin mengentotnya…sambil kubiarkan ia tetap memakai jilbab dan baju muslimahnya. Wow….Ida…..aku ingin merasakan vagina wanita muda alim berjilbab …
“Ida … aku suka kecantikanmu.” “Aku telah lama mendambakan yang seperti ini.”
Kuangkat tubuhnya ke atas meja, hingga posisinya kini Ida Zulaikha duduk di atas meja. Dengan begitu kemaluannya tepat sejajar dengan kontolku yang telah mengacung tegak ini.
Dengan bersandar dan duduk di atas meja,aku semakin mudah memandangi kecantikan wajahnya. Mata wanita muda cantik alim berjilbab ini meredup, menahan gejolak birahi. Namun sesekali bibirnya tersenyum, menandakan iapun menikmati permainan sex dari lelaki brutal sepertiku. jilbab putih semakin membuatku bernafsu, sungguh suatu pemandangan yang erotis sekali. Seorang wanita muda cantik, alim berjilbab, kini duduk mengangkang di atas meja, berhadapan dengan tubuhku yang telah bugil dan polos..
Akhirnya … kusibakkan ke atas jubah panjang muslimahnya … kutarik ke bawah celana dalamnya yang berwarna hitam, kupeluk erat tubuhnya, … dan segera kuarahkan kontolku ke dalam kemaluannya. Dengan gerakan yang lembut daan pelan, kuarahkan kontol ku yang telah tegang ini ke dalam vagina Ida Zulaikha. Sementara tanganku terus memompa buah dadanya yang masih terlindungi jilbab dan baju panjangnya … bibirku tiada henti mengecup bibirnya … menyedotnya dengan mesra. Dan saat itu kini datang, vagina Ida Zulaikha telah basah oleh lendir birahi yang melanda.
Kini kudorong kontolku masuk ke vaginanya … bles … kepala kontolku menyeruak ke dalam liang kewanita mudaan wanita muda alim berjilbab ini. Kutarik dan kudorong lagi kontolku secara berulang-ulang, dengan pelan-pelan, hingga akhirnya aku mempercepat gerakanku.
Ida Zulaikha., istri temanku yang alim berjilbab itu kini tak mampu lagi berkata-kata. Hanya desahan dan geliatan tubuh saja yang dapat dilakukan, karena gejokak nafsu birahi telah membakar jiwanya. Bagiku, gerakan tubuhnya yang menggeliat-geliat dan expresi wajahnya yang cantik dalam balutan jilbab putih … membuatku semakin merasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya. Terus terang aku telah biasa bermain perempuan.
Tak terhitung lagi perempuan yang pernah kutiduri. Dari gadis2 toko, teman2 kuliah, sampai gadis2 nakal di komplek2 pelacuran. Namun mengentotin seorang wanita muda yang cantik dan alim berjilbab, baru sekarang ini aku lakukan. Betul2 nikmat … erotis … sensasional. Apalagi wanita muda alim berjilbab secantik Ida Zulaikha, benar2 membuatku ingin memuncratkan sperma sebanyak mungkin kedalam vaginanya.
Sekitar 15 menit aku menyetubuhi Ida Zulaikha dalam posisi di atas meja seperti ini. Keringat birahi telah membasahi tubuhku dan juga tubuh Ida Zulaikha. Jilbab putih yang dikenakannya nampak kusut dan awut-awutan, namun aku tetap konsisten membiarkan jilbab putihnya itu tetap membalut wajah dan kepala Ida Zulaikha. Sementara baju panjang warna ungu yang dikenakan Ida Zulaikha juga nampak kian amburadul. Gerakan maju mundur kontolku yang panjang menimbulkan bunyi yang sensasional.
Ida Zulaikha nampak sangat bernafsu menikmatu gerakan-gerakan ini. Ya….nikmat sekali rasanya … Bunyi yang ditimbulkan oleh gerakan kontolku yang mengobrak-abrik seisi liang kewanita mudaannya yang dipadu dengan denyut-denyut nikmat otot di vaginanya menimbulkan gejolak dan nafsu yang membakar jiwa. Dan aku memang sengaja ingin menunjukkan segala daya dan kekuatan sexku. Aku ingin Ida Zulaikha mengakui kejantananku, kebrutalanku … ya … aku tak mau kalah dibanding suaminya dalam memuaskan wanita muda. Aku ingin membuat kesan yang sangat mendalam pada diri wanita muda alim berjilbab ini. Setidaknya aku ingin membuatnya ketagihan bercinta denganku.
Bukankah akan menyenangkan jika ternyata wanita muda alim berjilbab ini ketagihan dan merengek-rengek minta bermain seks denganku? Di tengah-tengah kami berdua menikmati percintaan yang heboh ini, tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi. Thing..thong..!!!
“Assalamu’alaikum……”. Suara seorang wanita muda mengucapkan salam mengagetkan sekaligus menghentikan gerakan erotis kami berdua.
Ida Zulaikha nampak agak gugup, karena ada seorang tamu datang. Ya…wajar, ia nampak kuatir kalau skandal ini terungkap dan diketahui tetangga.
“SSSSttt…..tenang nggak usah gugup, siapa sih itu?”, tanyaku mencoba menenangkan.
“Itu Bu Siti Maesaroh tetangga sebelah”, jawab Ida Zulaikha.
“Sekarang betulkan dulu jilbab dan pakaianmu, kamu boleh keluar dan temui tamu kamu itu, bersikaplah seolah tak ada apa2. Tenangkan hatimu sayang….”, pintaku.
Ida Zulaikha membetulkan jilbab dan baju muslimahnya lalu melangkah keluar membuka pintu. Aku mengintip dari dalam, wow rupanya wanita muda yang bernama Siti Maesaroh ini seorang wanita muda cantik yang juga mengenakan jilbab. Baju panjang merah hati dipadu jilbab warna merah pula.
“Eh … Bu Maesaroh, silahkan masuk Bu’.
”’Makasih Bu Ida Zulaikha, saya Cuma mau ngasih undangan Pengajian nanti malam kok. Dan…kebetulan nanti malam Bu Ida Zulaikha yang mendapat jatah mengisi ceramah pengajian.
Aku lihat wanita muda cantik yang juga alim berjilbab itu menyodorkan secarik kertas kepada Ida Zulaikha, yang rupanya undangan untuk menghadiri pengajian yang biasa diselenggarakan rutin di komplek perumahan tempat Ida Zulaikha tinggal. Namun itu tak terlalu menarik bagiku, tubuhku yang masih telanjang bulat dengan kontol mengacung tegak lebih tertarik memelototi Maesaroh yang tak kalah cantik dengan Ida Zulaikha. Wow … tangan kananku mengocok kontol sambil memandangi wanita muda cantik alim berjilbab yang bernama Siti Maesaroh itu.
Aku menghayalkan bagaimana indahnya sendainya Maesaroh turut serta dalam percintaanku dengan Ida Zulaikha ini. Ya … dua wanita muda cantik alim berjilbab kuembat sekaligus … tentu nikmat sekali. Namun akhirnya Bu Maesaroh itupun pulang, kini Ida Zulaikha kembali menutup pintu dan melangkah masuk ke dalam. Langsung aku memeluk tubuhnya. Kembali menciuminya, menggelutinya dan membawa tubuhnya ke dalam kamar. Namun tiba2 Ida Zulaikha memandangku.
“Pak…..aku ingin di atas, bapak tiduran saja di karpet lantai.” bisik Ida Zulaikha. Belum juga sadar menangkap maksudnya ,ia telah mendorongku hingga terdoromg ke belakang hingga tertidur di lantai.
Wah … wah … wah … rupanya Ida Zulaikha benar2 buas Juga. Aku terlentang di lantai, segera Ida Zulaikha mengangkangiku dan kini ia berdiri mengangkang persis di atas tubuhku yang terlentang di lantai. Ida Zulaikha meraih kain bawah baju panjangnya, disingkapkan dan ditariknya ke atas sampai ke perutnya dan ia kini berjongkok mengarahkan kontol tegakku agar tepat menuju lobang vaginanya.
Wow … benar2 nikmatnya seorang wanita muda cantik yang masih mengenakan jilbab dan baju panjang kini rela mempertontonkan keindahan pahanya, tubuhnya, vaginanya, jembutnya, bahkan ikhlas membiarkan kontol lelaki lain selain suaminya menerobos dan mendobrak dan mengobrak-abrik liang kemaluannya. Aku menunggu saat2 indah vaginanya menyentuh kontolku, aku menunggu dengan jantung berdebar-debar sambil mata nakalku terus memandangi wajah cantik Ida Zulaikha, wanita muda alim berjilbab ini.
Akhirnya … kontolku yang tegang menelusupi lobang vagina wanita muda alim berjilbab ini. Nampak Ida Zulaikha menggigit bibir bawahnya dengan desahan dan rintihan. Ida Zulaikha tak mampu menyembunyikan perasaan nikmat tiada tara ini. Dengan gerakan2 yang semakin cepatdan cepat, Ida Zulaikha naik turun … naik turun … dengan sangat erotis sekali. Kepalanya oleng ke sana ke mari mengikuti geliatan tubuh dan mengimbangi gerakan maju mundur kontolku ke dalam vaginanya. jilbab putih itu kini sungguh sangat menawan bergetar-getar, berkibar-kibar, sungguh suatu pemandangan indah dan sensasional.
wanita muda cantik alim berjilbab kini bergerak naik turun dengan bersemangat, mengeluar masukkan kontolku ke dalam vaginanya … wow …aku tak ingin semua ini cepat selesai. Ya … aku ingin menikmati pemandangan indah ini selama mungkin … di mana Ida Zulaikha adalah seorang wanita muda cantik alim berjilbab kini naik turun di atas tubuhku yang bugil, dan wanita muda alim berjilbab yang sangat cantik itu tengah memompa seluruh isi kemaluannya dengan kontolku yang besar ini.
Naik…..turun…dengan berulang-ulang. Begitulah gerakan kontinyu terus dilakukan wanita muda alim berjilbab ini. Hingga sampailah pada saatnya, kontolku terasa sangat tegang, sangat kuat, ya … tekanan dan denyutan di kontolku kurasakan sangat kuat … dan akhirnya cairan sperma itu muncrat dengan deras dan kuat … memancar dan membanjiri seluruh isi lobang vagina Ida Zulaikha.
Seiring dengan menyemburnya spermaku ke dalam vaginanya … Ida Zulaikha menjerit sangat kuat …. begitupun diriku ….
“Aaaaahhhhhh …… ooouwww ……… Ahhhhhhhhhh.!!!!!!…Ida Zulaikha….Oouuhh….”’Pak…..Enaaaaaakkkk…!!!!! Oouuuhh…!!!”, teriakan histeris mengiringi semburan sperma dan cairan kenikmatan kami berdua.

Cerita Ngentot Di Hari Ulang Tahun Linda Sahabatku

cerita dewasa, cerita sex, cerita seks, cerita ngentot, setengah baya, 17 tahun, abg binal, memek kontol
Ilustrasi Foto Linda
Cerita Seks Ngentot Di Hari Ulang Tahun Linda – Aku memang terlahir dari keluarga yang cukup berada. Aku anak lelaki satu-satuya. Dan juga anak bungsu. Dua kakakku perempuan semuanya. Dan jarak usia antara kami cukup jauh juga. Antara lima dan enam tahun. Karena anak bungsu dan juga satu-satunya lelaki, jelas sekali kalau aku sangat dimanja. Apa saja yang aku inginkan, pasti dikabulkan. Seluruh kasih sayang tertumpah padaku.

Sejak kecil aku selalu dimanja, sampai besarpun aku terkadang masih suka minta dikeloni. Aku suka kalau tidur sambil memeluk Ibu, Mbak Lisa atau Mbak Indri. Tapi aku tidak suka kalau dikeloni Ayah. Entah kenapa, mungkin tubuh Ayah besar dan tangannya ditumbuhi rambut-rambut halus yang cukup lebat. Padahal Ayah paling sayang padaku. Karena apapun yang aku ingin minta, selalu saja diberikan. Aku memang tumbuh menjadi anak yang manja. Dan sikapku juga terus seperti anak balita, walau usiaku sudah cukup dewasa.
Pernah aku menangis semalaman dan mengurung diri di dalam kamar hanya karena Mbak Indri menikah. Aku tidak rela Mbak Indri jadi milik orang lain. Aku benci dengan suaminya. Aku benci dengan semua orang yang bahagia melihat Mbak Indri diambil orang lain. Setengah mati Ayah dan Ibu membujuk serta menghiburku. Bahkan Mbak Indri menjanjikan macam-macam agar aku tidak terus menangis. Memang tingkahku tidak ubahnya seorang anak balita.
Tangisanku baru berhenti setelah Ayah berjanji akan membelikanku motor. Padahal aku sudaH punya mobil. Tapi memang sudah lama aku ingin dibelikan motor. Hanya saja Ayah belum bisa membelikannya. Kalau mengingat kejadian itu memang menggelikan sekali. Bahkan aku sampai tertawa sendiri. Habis lucu sih.., Soalnya waktu Mbak Indri menikah, usiaku sudab 21 tahun.
Hampir lupa, Saat ini aku masih kuliah. Dan kebetulan sekali aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup keren. Di kampus, sebenarnya ada seorang gadis yang perhatiannya padaku begitu besar sekali. Tapi aku sama sekali tidak tertarik padanya. Dan aku selalu menganggapnya sebagai teman biasa saja. Padahal banyak teman-temanku, terutama yang cowok bilang kalau gadis itu menaruh hati padaku.
Sebut saja namanya Linda. Punya wajab cantik, kulit yang putih seperti kapas, tubuh yang ramping dan padat berisi serta dada yang membusung dengan ukuran cukup besar. Sebenarnya banyak cowok yang menaruh hati dan mengharapkan cintanya. Tapi Linda malah menaruh hati padaku. Sedangkan aku sendiri sama sekali tidak peduli, tetap menganggapnya hanya teman biasa saja. Tapi Linda tampaknya juga tidak peduli. Perhatiannya padaku malah semakin bertambah besar saja. Bahkan dia sering main ke rumahku, Ayah dan Ibu juga senang dan berharap Linda bisa jadi kekasihku.
Begitu juga dengan Mbak Lisa, sangat cocok sekali dengan Linda Tapi aku tetap tidak tertarik padanya. Apalagi sampai jatuh cinta. Anehnya, hampir semua teman mengatakan kalau aku sudah pacaran dengan Linda, Padahal aku merasa tidak pernah pacaran dengannya. Hubunganku dengan Linda memang akrab sekali, walaupun tidak bisa dikatakan berpacaran.
Seperti biasanya, setiap hari Sabtu sore aku selalu mengajak Bobby, anjing pudel kesayanganku jalan-jalan mengelilingi Monas. Perlu diketahui, aku memperoleh anjing itu dan Mas Herman, suaminya Mbak Indri. Karena pemberiannya itu aku jadi menyukai Mas Herman. Padahal tadinya aku benci sekali, karena menganggap Mas Herman telah merebut Mbak Indri dan sisiku. Aku memang mudah sekali disogok. Apalagi oleh sesuatu yang aku sukai. Karena sikap dan tingkah laku sehari-hariku masih, dan aku belum bisa bersikap atau berpikir secara dewasa.
Tanpa diduga sama sekali, aku bertemu dengan Linda. Tapi dia tidak sendiri. Linda bersama Mamanya yang usianya mungkin sebaya dengan Ibuku. Aku tidak canggung lagi, karena memang sudah saling mengenal. Dan aku selalu memanggilnya Tante Maya.
“Bagus sekali anjingnya..”, piji Tante Maya.
“Iya, Tante. diberi sama Mas Herman”, sahutku bangga.
“Siapa namanya?” tanya Tante Maya lagi.
“Bobby”, sahutku tetap dengan nada bangga.
Tante Maya meminjamnya sebentar untuk berjalan-jalan. Karena terus-menerus memuji dan membuatku bangga, dengan hati dipenuhi kebanggaan aku meminjaminya. Sementara Tante Maya pergi membawa Bobby, aku dan Linda duduk di bangku taman dekat patung Pangeran Diponegoro yang menunggang kuda dengan gagah. Tidak banyak yang kami obrolkan, karena Tante Maya sudah kembali lagi dan memberikan Bobby padaku sambil terus-menerus memuji. Membuat dadaku jadi berbunga dan padat seperti mau meledak. Aku memang paling suka kalau dipuji.
Oh, ya.., Nanti malam kamu datang..”, ujar Tante Maya sebelum pergi.
“Ke rumah..?”, tanyaku memastikan.
“Iya.”
“Memangnya ada apa?” tanyaku lagi.
“Linda ulang tahun. Tapi nggak mau dirayakan. Katanya cuma mau merayakannya sama kamu”, kata Tante Maya Iangsung memberitahu.
“Kok Linda nggak bilang sih..?”, aku mendengus sambil menatap Linda yang jadi memerah wajahnya. Linda hanya diam saja.
“Jangan lupa jam tujuh malam, ya..” kata Tante Maya mengingatkan.
“Iya, Tante”, sahutku.
Dan memang tepat jam tujuh malam aku datang ke rumah Linda. Suasananya sepi-sepi saja. Tidak terlihat ada pesta. Tapi aku disambut Linda yang memakai baju seperti mau pergi ke pesta saja. Tante Maya dan Oom Joko juga berpakaian seperti mau pesta. Tapi tidak terlihat ada seorangpun tamu di rumah ini kecuali aku sendiri. Dan memang benar, ternyata Linda berulang tahun malam ini. Dan hanya kami berempat saja yang merayakannya.
Perlu diketahui kalau Linda adalah anak tunggal di dalam keluarga ini. Tapi Linda tidak manja dan bisa mandiri. Acara ulang tahunnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Selesai makan malam, Linda membawaku ke balkon rumahnya yang menghadap langsung ke halaman belakang.
Entah disengaja atau tidak, Linda membiarkan sebelah pahanya tersingkap. Tapi aku tidak peduli dengan paha yang indah padat dan putih terbuka cukup lebar itu. Bahkan aku tetap tidak peduli meskipun Linda menggeser duduknya hingga hampir merapat denganku. Keharuman yang tersebar dari tubuhnya tidak membuatku bergeming.
Linda mengambil tanganku dan menggenggamnya. Bahkan dia meremas-remas jari tanganku. Tapi aku diam saja, malah menatap wajahnya yang cantik dan begitu dekat sekali dengan wajahku. Begitu dekatnya sehingga aku bisa merasakan kehangatan hembusan napasnya menerpa kulit wajahku. Tapi tetap saja aku tidak merasakan sesuatu.
Dan tiba-tiba saja Linda mencium bibirku. Sesaat aku tersentak kaget, tidak menyangka kalau Linda akan seberani itu. Aku menatapnya dengan tajam. Tapi Linda malah membalasnya dengan sinar mata yang saat itu sangat sulit ku artikan.
“Kenapa kau menciumku..?” tanyaku polos.
“Aku mencintaimu”, sahut Linda agak ditekan nada suaranya.
“Cinta..?” aku mendesis tidak mengerti.
Entah kenapa Linda tersenyum. Dia menarik tanganku dan menaruh di atas pahanya yang tersingkap Cukup lebar. Meskipun malam itu Linda mengenakan rok yang panjang, tapi belahannya hampir sampai ke pinggul. Sehingga pahanya jadi terbuka cukup lebar. Aku merasakan betapa halusnya kulit paha gadis ini. Tapi sama sekali aku tidak merasakan apa-apa.
Dan sikapku tetap dingin meskipun Linda sudah melingkarkan tangannya ke leherku. Semakin dekat saja jarak wajah kami. Bahkan tubuhku dengan tubuh Linda sudah hampir tidak ada jarak lagi. Kembali Linda mencium bibirku. Kali ini bukan hanya mengecup, tapi dia melumat dan mengulumnya dengan penuhl gairah. Sedangkan aku tetap diam, tidak memberikan reaksi apa-apa. Linda melepaskan pagutannya dan menatapku, Seakan tidak percaya kalau aku sama sekali tidak bisa apa-apa.
“Kenapa diam saja..?” tanya Linda merasa kecewa atau menyesal karena telah mencintai laki-laki sepertiku.
Tapi tidak.., Linda tidak menampakkan kekecewaan atau penyesalan Justru dia mengembangkan senyuman yang begitu indah dan manis sekali. Dia masih melingkarkan tangannya ke leherku. Bahkan dia menekan dadanya yang membusung padat ke dadaku.

Nikmatnya Ngentot Memek Linda

Terasa padat dan kenyal dadanya. Seperti ada denyutan yang hangat. Tapi aku tidak tahu dan sama sekali tidak merasakan apa-apa meskipun Linda menekan dadanya cukup kuat ke dadaku. Seakan Linda berusaha untuk membangkitkan gairah kejantananku. Tapi sama Sekali aku tidak bisa apa-apa. Bahkan dia menekan dadanya yang membusung padat ke dadaku.
“Memangnya aku harus bagaimana?” aku malah balik bertanya.
“Ohh..”, Linda mengeluh panjang.
Dia seakan baru benar-benar menyadari kalau aku bukan hanya tidak pernah pacaran, tapi masih sangat polos sekali. Linda kembali mencium dan melumat bibirku. Tapi sebelumnya dia memberitahu kalau aku harus membalasnya dengan cara-cara yang tidak pantas untuk disebutkan. Aku coba untuk menuruti keinginannya tanpa ada perasaan apa-apa.
“Ke kamarku, yuk..”, bisik Linda mengajak.
“Mau apa ke kamar?”, tanyaku tidak mengerti.
“Sudah jangan banyak tanya. Ayo..”, ajak Linda setengah memaksa.
“Tapi apa nanti Mama dan Papa kamu tidak marah, Lin?”, tanyaku masih tetap tidak mengerti keinginannya.
Linda tidak menyahuti, malah berdiri dan menarik tanganku. Memang aku seperti anak kecil, menurut saja dibawa ke dalam kamar gadis ini. Bahkan aku tidak protes ketika Linda mengunci pintu kamar dan melepaskan bajuku. Bukan hanya itu saja, dia juga melepaskan celanaku hingga yang tersisa tinggal sepotong celana dalam saja Sedikitpun aku tidak merasa malu, karena sudah biasa aku hanya memakai celana dalam saja kalau di rumah.
Linda memandangi tubuhku dan kepala sampai ke kaki. Dia tersenyum-senyum. Tapi aku tidak tahu apa arti semuanya itu. Lalu dia menuntun dan membawanya ke pembaringan. Linda mulai menciumi wajah dan leherku. Terasa begitu hangat sekali hembusan napasnya.
“Linda..”
Aku tersentak ketika Linda melucuti pakaiannya sendiri, hingga hanya pakaian dalam saja yang tersisa melekat di tubuhnya. Kedua bola mataku sampai membeliak lebar. Untuk pertama kalinya, aku melihat sosok tubuh sempurna seorang wanita dalam keadaan tanpa busana. Entah kenapa, tiba-tiba saja dadaku berdebar menggemuruh Dan ada suatu perasaan aneh yang tiba-tiba saja menyelinap di dalam hatiku.
Sesuatu yang sama sekali aku tidak tahu apa namanya, Bahkan seumur hidup, belum pernah merasakannya. Debaran di dalam dadaku semakin keras dan menggemuruh saat Linda memeluk dan menciumi wajah serta leherku. Kehangatan tubuhnya begitu terasa sekali. Dan aku menurut saja saat dimintanya berbaring. Linda ikut berbaring di sampingku. Jari-jari tangannya menjalar menjelajahi sekujur tubuhku. Dan dia tidak berhenti menciumi bibir, wajah, leher serta dadaku yang bidang dan sedikit berbulu.
Tergesa-gesa Linda melepaskan penutup terakhir yang melekat di tubuhnya. sehingga tidak ada selembar benangpun yang masih melekat di sana. Saat itu pandangan mataku jadi nanar dan berkunang-kunang. Bahkan kepalaku terasa pening dan berdenyut menatap tubuh yang polos dan indah itu. Begitu rapat sekali tubuhnya ke tubuhku, sehingga aku bisa merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya. Tapi aku masih tetap diam, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Linda mengambil tanganku dan menaruh di dadanya yang membusung padat dan kenyal.
Dia membisikkan sesuatu, tapi aku tidak mengerti dengan permintaannya. Sabar sekali dia menuntun jari-jari tanganku untuk meremas dan memainkan bagian atas dadanya yang berwarna coklat kemerahan. Tiba-tiba saja Linda. menjambak rambutku, dan membenamkan Wajahku ke dadanya. Tentu saja aku jadi gelagapan karena tidak bisa bernapas. Aku ingin mengangkatnya, tapi Linda malah menekan dan terus membenamkan wajahku ke tengah dadanya. Saat itu aku merasakan sebelah tangan Linda menjalar ke bagian bawah perutku.
“Okh..?!”.
Aku tersentak kaget setengah mati, ketika tiba-tiba merasakan jari-jari tangan Limda menyusup masuk ke balik celana dalamku yang tipis, dan..
“Linda, apa yang kau lakukan..?” tanyaku tidak mengerti, sambil mengangkat wajahku dari dadanya.
Linda tidak menjawab. Dia malah tersenyum. Sementara perasaan hatiku semakin tidak menentu. Dan aku merasakan kalau bagian tubuhku yang vital menjadi tegang, keras dan berdenyut serasa hendak meledak. Sedangkan Linda malah menggenggam dan meremas-remas, membuatku mendesis dan merintih dengan berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Tapi aku hanya diam saja, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Linda kembali menghujani wajah, leher dan dadaku yang sedikit berbulu dengan ciuman-ciumannya yang hangat dan penuh gairah membara.
Memang Linda begitu aktif sekali, berusaha membangkitkan gairahku dengan berbagai macam cara. Berulang kali dia menuntun tanganku ke dadanya yang kini sudan polos.
“Ayo dong, jangan diam saja..”, bisik Linda disela-sela tarikan napasnya yang memburu.
“Aku.., Apa yang harus kulakukan?” tanyaku tidak mengerti.
“Cium dan peluk aku..”, bisik Linda.
Aku berusaha untuk menuruti semua keinginannya. Tapi nampaknya Linda masih belum puas. Dan dia semakin aktif merangsang gairahku. Sementara bagian bawah tubuhku semakin menegang serta berdenyut.
Entah berapa kali dia membisikkan kata di telingaku dengan suara tertahan akibat hembusan napasnya yang memburu seperti lokomotif tua. Tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang d ibisikkannya. Waktu itu aku benar-benar bodoh dan tidak tahu apa-apa. Walau sudah berusaha melakukan apa saja yaang dimintanya.
Sementara itu Linda sudah menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang putih mulus. Linda berada tepat di atas tubuhku, sehingga aku bisa melihat seluruh lekuk tubuhnya dengan jelas sekali.
Entah kenapa tiba-tiba sekujur tubuhku menggelelar ketika penisku tiba-tiba menyentuh sesuatu yang lembab, hangat, dan agak basah. Namun tiba-tiba saja Linda memekik, dan menatap bagian penisku. Seakan-akan dia tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. Sedangkan aku sama sekali tidak mengerti. PadahaI waktu itu Linda sudah dipengaruhi gejolak membara dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya.
“Kau..”, desis Linda terputus suaranya.
“Ada apa, Lin?” tanyaku polos.
“Ohh..”, Linda mengeluhh panjang sambil menggelimpangkan tubuhnya ke samping. Bahkan dia langsung turun dari pembaringan, dan menyambar pakaiannya yang berserakan di lantai. Sambil memandangiku yang masih terbaring dalam keaadaan polos, Linda mengenakan lagi pakaiannya. Waktu itu aku melihat ada kekecewaan tersirat di dalam sorot matanya. Tapi aku tidak tahu apa yang membuatnya kecewa.
“Ada apa, Lin?”, tanyaku tidak mengerti perubahan sikapnya yang begitu tiba-tiba.
“Tidak.., tidak ada apa-apa, sahut Linda sambil merapihkan pakaiannya.
Aku bangkit dan duduk di sisi pembaringan. Memandangi Linda yang sudah rapi berpakaian. Aku memang tidak mengerti dengan kekecewannya. Linda memang pantas kecewa, karena alat kejantananku mendadak saja layu. Padahal tadi Linda sudah hampir membawaku mendaki ke puncak kenikmatan.